2. Profil Sekolah

1  Nama Sekolah : SMP Negeri 3 Ciasem
2  Status : Negeri
3  Kategori Sekolah : SSN, A (93,63)
4  Tahun didirikan/beroperasi : 2003/2004
5  Kepemilikan Tanah/Bang. : Milik Pemerintah
 a.Luas Tanah/Status : 6.860 m2 / SHM
 b.Luas Bangunan : 6.403,63 m2
6  N I S : 200730
7  NSS : 201021918100
8  NPSN : 20233618
9  Alamat Sekolah : Jl.Desa Dukuh
10 Desa : Dukuh
11 Kecamatan : Ciasem
12 Kabupaten/Kota : Subang
13 Propinsi : Jawa Barat
14 Nomor Telpon : 02607510770
15 Lokasi : 6°20’6’’ S, 107°42’14’’ E.
16 E-mail : smpnciasem3@gmail.com
17 Website : smpn3ciasem.wordpress.com
18 Nomor Rekening : 0011801201100
19 Nama Bank : BJB KCP Ciasem

Teori Kognitif dari Bruner dan Teori Belajar Bermakna dari Ausubel

Teori Kognitif dari Bruner dan Teori Belajar Bermakna dari Ausubel

Ringkasan

Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan.Menurut Bruner belajar memerlukan 3 proses yang hampir langsung bersamaan.Bruner juga membagi perkembnagan kognitif anak atas tahap-tahap tertentu yakni : enaktif, ikolik, simbolik.Kurikulum Spiral yaitu perkembangan kognitif yang dapat ditingkatkan dengan cara mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangan.Dalam hubungannya dengan matematika Bruner merumuskan 4 teorima tentang matematika yaitu :Teorima konstruksi, teorima notasi, teorima pengkontrasan dan variasi, teorima konektivitas.

Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda.Pada belajar menerima,isi pokok yang akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan .Ausubel juga menjelaskan bahwa perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.

Pendahuluan

Manusia dewasa mempunyai lebih dari 100 milyar neuron, yang satu sama lain berhubungan secara spesifik dan rumit sehingga memungkinkan untuk mengingat, melihat, belajar, berpikir, kesadaran dan lain-lain (Schatz 1992). Struktur otak  terbentuk sesuai dengan program yang secara biologis tersimpan dalam DNA, dan  organ tersebut baru bekerja setelah selesainya seluruh penataan yang rumit tersebut.

Pada saat baru lahir, hampir seluruh neuron yang harus dimiliki sudah ada, tapi berat otaknya hanya ¼ dari otak dewasa. Otak menjadi bertambah besar karena  pembesaran neuron, bertambahnya jumlah akson dan dendrit sesuai dengan perkembangan  hubungan antar sesamanya. Untuk menyempurnakan perkembangan maka anak kecil harus diberi rangsangan melalui raba, speech (berbicara) dan images (daya hayal) (Bloom 1988, Schatz 1992).

Menurut Bloom (1988) defenisi belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Secara praktis dan diasosiasikan sebagai proses memperoleh informasi . Menurut Kupferman (1981) belajar adalah proses dimana manusia dan binatang menyesuaikan tingkah lakunya sebagai hasil dari pengalaman .

Memori ingatan adalah proses dimana informasi belajar disimpan dan dapat dibaca kembali (dikeluarkan kembali). Ingatan atau memory tidaklah sesederhana seperti ini. Memory adalah proses aktif, karena ilmu pengetahuan berubah terus, selalu diperiksa dan diformulasi ulang oleh pikiran otak kita. Menurut Jerome Bruner manusia mempunyai kapasitas dan  kecendrungan untuk berubah karena menghadapi kejadian yang umum. Ingatan mempunyai beberapa fase, yaitu waktunya sangat singkat (extremely short term)/ingatan segera (immediate memory) (item hanya dapat disimpan dalam beberapa detik). Ingatan jangka pendek (short term) (items dapat ditahan dalam beberapa menit), ingatan jangka panjang (long term) (penyimpanan berlangsung beberapa jam sampai seumur hidup).

Pembahasan

Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner bersetuju dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui peringkat-peringkat tertentu. Walau bagaimanapun, Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972, dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat.  Setelah itu, beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England.

A.    Teori Kognitif dari Bruner

Menurut Jerome Bruner , belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yakni :

a)      Memperoleh informasi baru. Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi seelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi tersebut dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.

b)      Transformasi informasi. Transformasi informasi / pengetahuan menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan.Informasi yang diperoleh , kemudian dianalisis , diubah atau ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal – hal yang lebih luas.

c)      Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji relevasi dan ketepatan pengetahuan.Proses ini dilakukan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur yang ada.

Pendewasaan pertumbuhan intlektual atau pertumbuhan kognitif seseorang menurut Bruner ( Dahar , 1989 ), adalah sebagai berikut :

a)      Pertumbuhan intlektual ditunjukan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Dalam pertumbuhan intlektual ini , adakalanya kita  melihat bahwa seorang anak mempertahankan suatu respons dalam lingkungan stimulus yang berubah-ubah , atau belajar mengubah responsnya dalam lingkungan stimulus yang tidak berubah .Sehingga melalui pertumbuhan seseorang dapat memperoleh kebebasan dari pengontrolan stimulus melalui proses – proses perantara yang mengubah stimulus sebelum respons.

b)      Pertumbuhan intlektual tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasikan peristiwa–peristiwa menjadi suatu system penyimpanan ( storage system ) yang sesuai dengan lingkungan. Sistem inilah yang memungkinkan peningkatan kemampuan anak untuk bertidak diatas informasi yang diperoleh pada suatu kesempatan.

c)      Pertumbuhan intlektual menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk berkata pada dirinya sendiri atau kepada orang lain , degan pertolongan kata – kata dan symbol – symbol , apa yang telah dilakukannya atau akan dilakukannya.

Bruner membagi perkembangan kognitif anak atas tahap – tahap tertentu.Menurut Bruner ada 3 tahap , yakni :

1.      Enaktif( enactive )

Tahap ini merupakan tahap representasi pengetahuan dalam melakukan tindakan . Pada tahap ini anak dalam tahap belajarnya menggunakan atau memanipulasi obyek – obyek secara langsung.

2.       Ikonik ( iconic )

Tahap yang merupakan perangkuman bayangan secara visual.Pada tahap ini anak melihat dunia melalui gambar – gambar atau visualisasi.Dalam belajarnya , anak tidak memanipulasi obyek – obyek secara langsung, tetapi sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek.

3.       Simbolik ( Symbolic )

Tahap ini merupakan tahap memanipulasi symbol – symbol secara langsung dan tidak lagi menggunakan obyek – obyek atau gambaran obyek.Pada tahap ini anak memiliki gagasan – gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika.

Menurut Bruner, untuk mengajarkan sesuatu tidak perlu ditunggu sampai anak mencapai suatu tahap perkembangan tertentu.Apabila bahan yang diberikan diatur dengan baik , maka anak dapat belajar meskipun usianya belum memadai.Jadi perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.Penerapan teori Bruner ini  dikenal sebagai “ Kurikulum spiral “.

Dalam model intruksional , Bruner memperkenalkan model yang dikenal dengan nama belajar penemuan ( Discovery learning ). Dalam belajar penemuan ini siswa akan berperan lebih aktif . Siswa berusaha sendiri memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan tertentu.Dengan cara ini akan memperoleh pengetahuan yang benar – benar bermakna.

Menurut Dahar,pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemu mempunyai beberapa kebaikan , yakni :

a)      Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat atau lebih mudah diingat , bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara – cara lain.

b)      Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada prinsip belajar lainnya.Dengan kata lain , konsep – konsep dan prinsip – prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru.

c)      Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.Secara khusus belajar penemuan melatih ketrampilan – ketrampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Dalam pembelajaran matematika, Bruner merumuskan adanya 4 teorema tentang belajar matematika , yakni sebagai berikut :

a.       Teorema konstruksi ( contruction theorem )

Menyatakan bahwa cara terbaik bagi siswa untuk mulai belajar konsep dan prinsip didalam matematika adalah dengan mengkontruksikan konsep dan prinsip tersebut.Menurut bruner , khusus siswa yang lebih muda harus mengkonstruksikan sendiri gagasan – gagasan yang dipelajarinya.Dan akan lebih baik jika ia menggunakan bantuan benda – benda konkrit.

b.       Teorema notasi ( notation theorem )

Menyatakan bahwa konstruksi atau penyajian awal dapat dibuat lebih sederhana secara kognitif dan dapat dipahami lebih baik oleh siswa , jika kontruksi tersebut berisi notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa.Dengan meggunakan notasi , siswa diharapkan dapat mengembangkan gagasan – gagasan yang berupa prinsip – prinsip dan bahkan dapat mengkreasikan prinsip – prinsip baru.

c.        Teorema Pengontrasan dan variasi ( contrast and variation theorem )

Menyatakan bahwa prosedur belajar gagasan – gagasan matematika yang berjalan dari konkrit ke abstrak harus disertakan pengontrasan dan variasinya.Suatu konsep matematika akan lebih bermakna bagi siswa,jika dalam penyajiannya konsep itu dibandingkan dengan konsep lainnya , konsep tersebut dipertentangkan dengan konsep lainnya.

d.       Teorima konektivitas ( connectivity theorem )

Menyatakan bahwa dalam matematika setisp konsep,sruktur dan keterampilan dihubungkan dengan konsep ,struktur dan ketrampilan yang lain.Konektivitas terstruktur antara elemen – elemen dalam setiap cabang matematika memungkinkan penalaran matematika yang analitis dan sintetis, serta lompatan intuitif dalam berfikir matematika.

Bruner juga memperkenalkan “Teori Intrumentalisme “ yang menekankan bahwa bahasa merupakan alat pemikiran manusia untuk menyempurnakan dan mengebangkan pikiran.Bahasa dapat membantu manusia agar dapat berfikir lebih sistematis.Menurut Bruner, peranan bahasa yang utama dalam meningkatkan pemikiran adalah dengan lahinya 4 jenis heuristic melalui bahasa,yakni ;

i.            Transformasi untuk menjelaskan lagi kenyataan dengan cara bergerak kearah pelahiran pikiran yang tinggi perumusannya.

ii.             Idealisasi, yang melibatkan kemampuan berdebat

iii.            Ekspansi,pengabungan dan penyekatan yang melibatkan cara pengurai contoh – contoh

iv.            Eksplikasi tujuan yang melibatkan kemampuan penutur membuat tujuannya jelas kepada dirinya sendiri dan kapada pendengarnya.

Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner

a)      Empat Tema tentang Pendidikan

Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak.Tema keempat adalah tentang motivasiatau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.

b)      Model dan Kategori

Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri.

Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world). Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui.

c)      Belajar sebagai Proses Kognitif

Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).

Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain.

Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain

Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Disamping itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.

Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa  menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan.

B.      Teori Belajar Bermakna dari Ausubel

Menurut David P.Ausubel belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi.Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa,melalui peneriaan atau penemuan.Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi tersebut pada sruktur kognitif yang telah ada.

Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa dalam bentuk :

Ø  Belajar penerimaan (reception learning) yang menyajikan informasi tersebut dalam betuk final.

Ø  Belajar penemuan (discovery learning) yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang dipelajari.

Pada tingkat kedua siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi tersebut pada konsep – konsep dalam struktur kognitifisme ; dalam hal ini terjadi “ belajar bermakna (meaningful learning)”.Siswa mungkin saja tidakmengaitkan informasi tersebut pada konsep – konsep yang aulida dalam struktur kognitifnya ; siswa hanya terbatas menghapal informasi baru;dalam hal ini terjadi “ belajar hafalan ( rote learning )”.Collette dan Chiappetta menggambarkan kedua dimensi ini dalam suatu salib sumbu.Sumbu vertical menyatakan dimensi pertama sedangkan sumbu horizontal menyatakan dimensi kedua.

Meaningful Learning

Discovery Learning

Rote learning

Reception Learning

Gambar.Dua dimensi belajar dari D.P Ausubel

Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda.Pada belajar menerima,isi pokok yang akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan .Ausubel juga menjelaskan bahwa perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan.Pencampuradukkan ini disebabkan adanya anggapan bahwa belajar menerima adalah hafalan,sedangkan belajar menemukan adalah bermakna.

Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut ke dalam sruktur kognitifnya. Belajar hafalan adalah suatu proses belajar yang dilakukan dengan mengingat kata demi kata .sedangkan belajar bermakna merupakan rangkaian proses belajar yang memberikan hasil yang bermakna.

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sah dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.

Demikian pemaparan dari dua dimensi pembelajaran tersebut terdapat empat kemungkinan tipe belajar,yakni :

o   Belajar menerima yang bermakna

Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kapada siswa dalam bentuk final.Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki.

o   Belajar penemuan yang bermakna

Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa.Siswa kemudian menghubungkan pengetahuan baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

o   Belajar menerima yang hapalan(tidak bermakna)

Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final,siswa kemudian menghapalnya.

o   Belajar penemuan yang hapalan ( tidak bermakna )

Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa.Siswa kemudian menghapal pengetahuan baru tersebut.

Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah :

1.      Pengatur awal (advance organizer)

Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.

2.      Diferensiasi Progregsif

Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep. Caranya unsure yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetai
Ausubel (Dahar ,1989 :141) ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :

a. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,

b. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip

c. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.

Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah “ belajar bermakna”.Ausubel selanjutnya memberikan dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna , yakni :

v  Siswa telah memiliki satu himpunan belajar bermakna.Artinya kondisi dan sikap siswa telah siap untuk mengerjakan tugas belajar yang sesuai dengan tujuan mereka.

v  Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitif siswa , sehingga siswa dapat mengasimilasikan bahan baru tersebut secara bermakna.Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru,sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan.

Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut sebagai ”Advance Organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatukan informasi – informasi baru yang akan dipelajari.

Tahap 4.

Siswa bekerja dengan contoh spesifik

Tahap 3.

Guru memberikan contoh

Tahap 2.

Guru menjelaskan istilah-istilah kunci

Tahap 1.

Advance Organizer

Guru menyajikan abstraksi atau generalisi pelajaran

Menurut Ausubel , paling sedikit terdapat tiga tujuan yang dapat dicapai oleh advance organizer.Pertama, advance organizer memberikan kerangka konseptual untuk belajar yang akan terjadi berikutnya.Kedua, advance organizer dipilih secara seksama sehingga dapat menjadi  penghubung antara simpanan informasi siswa saat ini dan belajar yang baru.Ketiga berlaku sebagai jembatan antara struktur kognitif lama dan struktur kognitif yang masih akan diperoleh.

Bila kita membandingkan teori Bruner dan teori Ausubel maka terlihat bahwa peerbedaan utama yang nampak adalah pada penekanan cara belajar. Bruner mnekankan pentingnya penemuan (discovery) sdangkan Ausubel menekankan pada belajar penerimaan (reception). Kesamaan kedua teori ini diungkapkan oleh Reilley dan Lewis sebagai berikut:

a.       Keduanya menekankan makna dan pemahaman, meskipun menurut Bruner makna dan pemahaman tersebut harus ditemukan secara induktif, sedangkan menurut Ausubel harus diasimilasi secara deduktif.

b.      Belajar materi/substansi tidak hanya merupakan pengulangan secara verbatim. Apabila substansi diketahui maka materi selanjutnya dapat ditransfer dan dipakai secara lebih luas.

c.       Keduanya menekankan adanya suatu hubungan. Bruner menekankan bagaimana sesuatu yang dipelajari harus dihubungkan dengan bahan-bahan lain dan bagaimana menemukan arti dalam hubungan tersebut. Ausubel menekankan bahwa apa yang dipelajari harus dihubungkan dengan apa yang telah ada di dalam struktur kognitif siswa.

d.      Keduanya menekankan pentingnya belajar konsep dan prinsip.

e.       Keduanya berbicara tentang struktur. Brunerr menekankan struktur disiplin imu, sedangakan Ausubel menekankan adanya pengaturan materi ajaran di dalam struktur kognitif.

f.       Proses belajar harus dipelajari seperti apa adanya didalam kehidupan sehari-hari dan tidak disederhanakan menjadi eksperimen-eksperimen dengan situasi labolatorium.

g.      Keduanya merupakan teori kognitif yang mempelajari proses-proses didalam pikiran dan tidak hanya apa yang terjadi di dunia fisik yang bersifat eksternal.

h.      Kkeduanya menekankan akan pentingnya bahasa sebagai dasar pikiran dan komunikasi, yang merupakan alat utama dalam proses belajar.

i.        Keduanya setuju bahwa perlu perbaikan pengajaran dengan tujuan pengajaran lebih bermakna.

Penutup

Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner juga membagi perkembnagan kognitif anak atas tahap-tahap tertentu yakni : enaktif, ikolik, simbolik.Bruner menyimpulkan bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak,serta untuk mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif adalah dengan mengoordinasikan model penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari bahan itu sesuai dengan tingkat kemajuan anak, dan guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya dalam menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti oleh mereka.

Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda.Pada belajar menerima,isi pokok yang akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan .Ausubel juga menjelaskan bahwa perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan.

Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya beriring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sepenuhnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual siswa dan merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan.

Daftar Pustaka

Ratumanan. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: